Fenomena Halo Pertanda Bencana?

By Mutoha Arkanuddin
Peristiwa Matahari dikelilingi bulatan yang terjadi beberapa waktu lalu, atau juga Bulan yang terlihat pada Senin malam (7/11) dalam astronomi dinamakan Halo. Ia adalah salah satu jenis fenomena optik di atmosfer seperti halnya juga kejadian pelangi.  “Halo” berasal dari bahasa Yunani yang artinya Lingkaran Bulan, namun sekarang umumnya diartikan sebagai lingkaran cahaya yang mengelilingi Bulan atau Matahari. Lingkaran  Halo  merupakan salah satu fenomena optik seperti halnya pelangi yang disebabkan pembelokan cahaya oleh unsur atmosfer. Halo disebabkan adanya pembelokan cahaya oleh kristal es di lapisan awan tinggi yakni awan Cirrostratus. Awan ini merupakan kombinasi awan Cirrus dan Stratus.
Awan Cirrostratus berada pada ketinggian lebih dari 6 km di atas permukaan air laut. Termasuk kelompok awan tinggi lainnya yaitu Cirrus, Cirrocumulus dan Cumulonimbus. Awan Cirrostratus memiliki sifat tipis, tersebar merata dan hampir transparan sehingga masih dapat ditembus cahaya bulan maupun matahari. Karena ketinggiannya (suhu dingin dibawah O° C) awan ini membentuk butiran lembut kristal es berbentuk tabung heksagonal (tabung segi enam) dengan ukuran berkisar antara 0,01 mm sampai 1 mm. Saat cahaya Matahari atau Bulan menerobos lapisan ini sebagian cahayanya akan mengalami pembiasan dan mengumpul membentuk pola lingkaran.
Kadang kita juga mendapatkan Halo dalam dua pola lingkaran yaitu lingkaran dalam dan lingkaran luar. Lingkaran ini masing-masing memiliki jari-jari sudut lingkaran sebesar 22° dan 46° disebabkan perbedaan ukuran dan arah sudut datang cahaya terhadap butiran kristal. Jadi saat kita melihat Halo jika jari-jarinya hanya selebar 1 jengkal tangan yang direntangkan maka itu termasuk Halo yang 22°. Nah malam ini yang terlihat itu kira2 yang mana ya..? Ya, yang paling sering memang 22° jadi ketika diukur pake tangan kira-kita 1 jengkal tangan dari pusat Bulan sampai tepinya.